Pusat arsip karya ilmiah, skripsi, dan penelitian sivitas akademika STIKes Maluku Husada. Pengetahuan lokal yang diakui global.
Wa Ode Alvi | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Seylin Alsya Titirima | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Syahrul Basir | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Nadia Kelrey | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Lidia Angi Clarissa kolauw | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Joan Fenly Lopulalan | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Maritza Tetelepta | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Weli Bata Thalia Ratumurun | Pembimbing: -
Pendahuluan: Perilaku agresif verbal pada anak usia 6–12 tahun merupakan salah satu permasalahan yang dapat berdampak pada perkembangan emosional dan sosial anak. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap munculnya perilaku tersebut adalah verbal abuse yang dilakukan oleh orang tua. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan verbal abuse orang tua dengan perilaku agresif verbal anak usia 6–12 tahun di SD Negeri 64 Ambon. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 265 siswa, dengan sampel sebanyak 159 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner verbal abuse orang tua sebanyak 11 item dan kuesioner perilaku agresif verbal anak sebanyak 10 item yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara verbal abuse orang tua dengan perilaku agresif verbal anak usia 6–12 tahun di SD Negeri 64 Ambon (p=0,001< 0,05). Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola komunikasi orang tua yang mengandung kekerasan verbal berhubungan dengan munculnya perilaku agresif verbal pada anak, sehingga diperlukan penerapan pola asuh positif dan komunikasi yang sehat dalam keluarga untuk mencegah berkembangnya perilaku agresif verbal pada anak. Kata kunci: verbal abuse, orang tua, perilaku agresif verbal, anak usia 6-12 tahun
Astin Indriani | Pembimbing: -
Latar Belakang: Overcrowding di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan kondisi meningkatnya jumlah pasien yang melebihi kapasitas pelayanan sehingga dapat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, termasuk proses pengambilan keputusan klinis perawat. Keputusan klinis perawat merupakan kemampuan penting dalam menentukan tindakan yang cepat dan tepat pada pasien gawat darurat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepadatan pasien (overcrowding) dengan keputusan klinis perawat di IGD RSUD Dr. M. Haulussy Ambon dan Rumkit TK. II Prof. Dr. J. A. Latumeten Ambon. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat IGD yang diperoleh menggunakan teknik total sampling. Pengukuran overcrowding dilakukan menggunakan instrumen National Emergency Department Overcrowding Score (NEDOCS), sedangkan keputusan klinis perawat diukur menggunakan Clinical Decision Making in Nursing Scale (CDMNS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia 18–35 tahun sebanyak 21 responden (52,5%) dan didominasi oleh perempuan sebanyak 29 responden (72,5%). Tingkat overcrowding di IGD sebagian besar berada pada kategori level 5 (sangat penuh sesak) sebanyak 22 responden (55,0%) dan level 4 (penuh sesak) sebanyak 18 responden (45,0%). Keputusan klinis perawat sebagian besar berada pada kategori sedang sebanyak 23 responden (57,5%), sedangkan kategori tinggi sebanyak 17 responden (42,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat kepadatan pasien (overcrowding) dengan keputusan klinis perawat di IGD. Kesimpulan: penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat overcrowding di IGD maka semakin besar pengaruhnya terhadap keputusan klinis perawat. Kondisi overcrowding dapat meningkatkan beban kerja, tekanan pelayanan, serta memengaruhi ketepatan dan efektivitas pengambilan keputusan klinis perawat dalam memberikan pelayanan kegawatdaruratan. Kata Kunci: Keputusan klinis perawat, Overcrowding.
Susana Lekiohapy | Pembimbing: -
Latar Belakang: Kepuasan kerja perawat merupakan kondisi emosional yang mencerminkan perasaan terhadap pekerjaan, meliputi aspek imbalan, lingkungan kerja, hubungan interpersonal, dan kesempatan pengembangan, sedangkan stres kerja adalah respons psikologis dan fisiologis akibat tekanan kerja yang berlebihan sehingga dapat mempengaruhi fungsi kognitif dan kinerja perawat. Pelaksanaan triage merupakan proses pengambilan keputusan klinis secara cepat dan tepat untuk menentukan prioritas penanganan pasien di Instalasi Gawat Darurat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dan stres kerja dengan pelaksanaan triage di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. M. Haulussy Provinsi Maluku dan Rumkit Tk II Prof. Dr. J.A. Latumeten Ambon. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Job Satisfaction Survey (JSS) untuk mengukur kepuasan kerja, kuesioner skala stres kerja, serta lembar observasi pelaksanaan triage. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki kepuasan kerja kategori sedang (87,5%), stres kerja kategori sedang (95,0%), serta pelaksanaan triage dalam kategori baik (72,5%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dengan pelaksanaan triage (p = 1,000; p > 0,05) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan pelaksanaan triage (p = 0,935; p > 0,05). Kesimpulan: penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan triage tidak hanya dipengaruhi oleh kepuasan kerja dan stres kerja, tetapi juga oleh faktor lain seperti kompetensi klinis, pengalaman kerja, pelatihan kegawatdaruratan, serta dukungan organisasi dalam lingkungan kerja. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Pelaksanaan triage , Stres Kerja,