Pusat arsip karya ilmiah, skripsi, dan penelitian sivitas akademika STIKes Maluku Husada. Pengetahuan lokal yang diakui global.
Erwin Suplatu | Pembimbing: -
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengelolaan obat narkotika dan psikotropika yang meliputi pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, penyerahan, pemusnahan dan penarikan, pengendalian dan administrasi obat narkotika serta psikotropika di rumah sakit khusus provinsi maluku. Data hasil penelitian menggunakan metode campuran (mixed metode), dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil kualitatif didapat dari wawancara langsung, sedangkan hasil kuantitatif didapatkan dari lembar cheklist dan hasil observasi dokumen pengelolaan obat narkotika dan psikotropika. Evaluasi dilakukan berdasarkan Permenkes No.72 tahun 2016 dan Permenkes No.5 Tahun 2023. Hasil penelitian menunjukan angka kesesuain pengelolaan obat narkotika dan psikotropika di rumah sakit khusus daerah provinsi maluku dengan perincian hasil pengelolaan sebagai berikut. (1) tahap pemilihan memiliki presentase 100% dikategorikan sangat baik: (2) tahap perencanaan memiliki presentase 100% dikategorikan sangat baik: (3) tahap pengadaan memiliki presentase 100% dikategorikan sangat baik: (4) tahap penerimaan memiliki presentase 80% dikategorikan sangat baik: (5) tahap penyimpanan memiliki presentase 94,44%: (6) tahap pendistribusian memiliki presentase 100% dikategorikan sangat baik: (7) tahap pemusnahan memiliki presentase 100% dikategorikan sangat baik: (8) tahap pengendalian memiliki presentase 33,3% dikategorikan sangat kurang baik: (9) tahap administrasi memiliki presentase 100% dikategorikan sangat baik. Maka didapatkan hasil rata-rata pengelolaan obat narkotika dan psikotropika di rumah sakit khusus daerah provinsi maluku sebesar 80,77% sehingga dikategorikan cukup baik sehingga dapat disimpulkan bahwa pengelolaan obat narkotika dan psikotropika di rumah sakit khusus daerah provinsi maluku belum sesuai dengan Permenkes No.72 tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit dan Permenkes No.5 Tahun 2023 tentang narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi. Kata kunci : Pengelolaan obat, Narkotika, Psikotropika
Crisanda Adventia Tenlima | Pembimbing: -
Matcha merupakan teh hijau berbentuk serbuk halus yang dikonsumsi secara utuh sehingga mengandung senyawa bioaktif, termasuk kafein, dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan teh hijau seduhan. Meningkatnya konsumsi matcha di masyarakat menimbulkan kebutuhan akan informasi mengenai kadar kafein untuk menjamin keamanan konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar kafein dalam serbuk matcha yang beredar di swalayan Kota Ambon serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan batas aman konsumsi kafein. Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel terdiri atas tiga merek serbuk matcha yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis kadar kafein dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 275 nm setelah proses ekstraksi menggunakan kloroform dan penambahan kalsium karbonat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rata-rata kafein tertinggi terdapat pada sampel D sebesar 167,4 µg/g (0,1674 mg), sedangkan kadar rata-rata pada sampel P dan sampel N masing-masing sebesar 122,4 µg/g (0,1224 mg) dan 123 µg/g (0,123 mg). Seluruh sampel memiliki kadar kafein yang masih berada di bawah batas maksimum konsumsi kafein berdasarkan ketentuan BPOM dan SNI, yaitu 150 mg per hari atau 50 mg per sajian. Dengan demikian, serbuk matcha yang dianalisis dalam penelitian ini memenuhi aspek keamanan konsumsi apabila dikonsumsi sesuai batas yang dianjurkan.
Arini | Pembimbing: -
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) non pneumonia merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA non pneumonia di Puskesmas Perawatan Laimu, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah periode Januari–September 2025. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif berdasarkan data rekam medis. Sampel penelitian berjumlah 79 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan menghitung persentase karakteristik pasien, penggunaan antibiotik, jenis antibiotik, pola pengggunaan bberdasarkan golongan, dosis, frekuensi pemberian, serta ketepatan penggunaan antibiotik berdasarkan indikator tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat frekuensi pemberian serta evaluasi rasionalitas. Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia 10-14 tahun sebanyak 41 pasien (51,9%) dan usia 15-18 tahun sebanyak 38 pasien (48,1%). Pasien perempuan sebanyak 41 pasien (51,9%) dan laki-laki 38 pasien (48,1%). Diagnosis terbanyak adalah common cold sebanyak 54 pasen (68,4%), farigitis 16 pasien (20,3%), dan tonsilitis 9 pasien (11,4%). Sebanyak 15 pasien (19,0%) mendapatkan antibiotik dan 64 pasien (81,0%) tidak mendapatkan antibiotik. Antibiotik yang digunakan dengan frekuensi 3x1. Evaluasi menunjukkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat frekuensi masing-masing 100%. Seluruh penggunaan antibioitk termasuk rasional (100%). Kata Kunci : ISPA, antibiotik, amoksisilin, rasionalitas, POR.
Mariana Joy Emanuela Septory | Pembimbing: -
Kecemasan merupakan respons psikologis umum yang dialami pasien saat menjalani pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) akibat ruang sempit, suara bising mesin, dan durasi pemeriksaan yang lama. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah pemberian edukasi oleh radiografer pada pemeriksaan MRI di RSUP Dr. Johannes Leimena Ambon. Desain penelitian pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest, melibatkan 60 responden yang diukur menggunakan instrumen State-Trait Anxiety Inventory (STAI-S). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z sebesar -4,739 dengan signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), berarti terdapat perbedaan bermakna tingkat kecemasan sebelum dan sesudah edukasi. Proporsi kecemasan ringan meningkat dari 85,0% menjadi 91,7%, sedangkan kecemasan sedang menurun dari 15,0% menjadi 8,3%. Disimpulkan edukasi oleh radiografer efektif menurunkan kecemasan pasien MRI. Kata kunci: kecemasan, edukasi radiografer, MRI, STAI-S, Wilcoxon Signed Rank Test
Clara Vensly | Pembimbing: -
Latar Belakang: Balita memiliki radiosensitivitas tinggi sehingga proteksi radiasi perlu diterapkan optimal sesuai prinsip ALARA. Data penerapannya di wilayah Indonesia Timur, khususnya Maluku, masih terbatas. Tujuan: Mengetahui penerapan proteksi radiasi pada pemeriksaan radiografi thorax balita dan kesesuaiannya dengan prinsip ALARA di RSUP dr. Johannes Leimena Ambon.Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif menggunakan observasi checklist 15 item (Ya=1, Tidak=0) pada 6 dari 13 radiografer (total sampling), dianalisis univariat deskriptif dengan SPSS. Hasil: Seluruh radiografer (100%) berkategori Tinggi, rata-rata kepatuhan 84,4% (76/90). Item APD apron radiografer dan edukasi verbal bernilai 0%, mencerminkan shielding struktural dan pertimbangan klinis rasional, bukan ketidakpatuhan. Kesimpulan: Penerapan proteksi radiasi radiografer berada pada kategori Tinggi dan telah sesuai prinsip ALARA.
Brian Soruday | Pembimbing: -
ABSTRAK PERBANDINGAN KUALITAS CITRA RADIOGRAF THORAX PROYEKSI PA MENGGUNAKAN FFD 150 CM DAN 180 CM DI LABORATORIUM RADIOLOGI STIKES MALUKU HUSADA Brian soruday1 , Maritje S.J Malisngorar², Dorothea Marantika, S.Si3 Amelia Niwele, S.Pd., M.Pd4 1Mahasiswa Program Studi DIII Radiologi STIkes Maluku Husada 2Dosen Program Studi Radiologi STIKes Maluku Husada briansorudaylainata@gmail.com Latar Belakang: Focus Film Distance (FFD) merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kualitas citra radiografi thoraks, terutama ketajaman, kontras, densitas, dan visualisasi struktur anatomi. Di Laboratorium Radiologi STIKes Maluku Husada Ambon masih digunakan FFD 150 cm, sedangkan standar laboratorium menganjurkan penggunaan FFD 180 cm sehingga diperlukan penelitian untuk membandingkan kualitas citra yang dihasilkan dari kedua variasi jarak tersebut. Tujuan: Mengetahui perbandingan kualitas citra radiograf thoraks proyeksi Postero Anterior (PA) menggunakan FFD 150 cm dan 180 cm serta menentukan FFD yang lebih optimal dalam menghasilkan kualitas radiograf yang baik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif komparatif. Data diperoleh melalui pemeriksaan radiografi thoraks PA pada satu pasien dewasa menggunakan dua variasi FFD, yaitu 150 cm dan 180 cm, dengan parameter eksposi yang sama. Penilaian kualitas citra dilakukan secara blind oleh dua radiografer dan satu dokter spesialis radiologi menggunakan metode Visual Grading Analysis (VGA) terhadap ketajaman citra, kontras citra, noise, densitas, visualisasi paru, visualisasi jantung, dan visualisasi diafragma dengan skala Likert 1–4. Analisis dilakukan menggunakan nilai median dan persentase kesepakatan observer. Hasil: FFD 150 cm memperoleh nilai median 4 pada seluruh parameter dengan tingkat kesepakatan observer 100%. FFD 180 cm memperoleh median 4 pada ketajaman citra, noise, densitas, dan visualisasi jantung, sedangkan kontras citra, visualisasi paru, dan visualisasi diafragma memperoleh median 3 dengan tingkat kesepakatan 57,14%. Kesimpulan: Penggunaan FFD 150 cm menghasilkan kualitas citra radiograf thoraks proyeksi PA yang lebih optimal, konsisten, dan lebih mudah diinterpretasikan dibandingkan FFD 180 cm pada kondisi peralatan dan parameter eksposi yang digunakan di Laboratorium Radiologi STIKes Maluku Husada Ambon. Kata Kunci: Focus Film Distance (FFD), radiografi thoraks PA, kualitas citra radiograf, Visual Grading Analysis (VGA), ketajaman citra
Diranti Rizal | Pembimbing: -
PENATALAKSANAAN PEMERIKSAAN RADIOGRAF GENU PADA KLINIS DISLOKASI PATELLA DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK III AMBON DIRANTI RIZAL Email: dirantirizal31@gmail.com ABSTRAK Dislokasi patella merupakan salah satu cedera pada sendi lutut yang ditandai dengan bergesernya patella keluar dari alur trochlea femur sehingga menyebabkan nyeri, pembengkakan, deformitas, dan keterbatasan gerak. Pemeriksaan radiografi genu berperan penting sebagai modalitas pencitraan awal untuk menegakkan diagnosis dan mengevaluasi kondisi anatomi lutut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan radiograf genu pada pasien dengan klinis dislokasi patella di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Ambon serta mengevaluasi hasil gambaran radiografinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap proses pemeriksaan radiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografi genu tidak memerlukan persiapan khusus selain verifikasi identitas pasien dan pelepasan benda logam pada area pemeriksaan. Proyeksi yang digunakan adalah anteroposterior (AP) dan lateral dengan penyesuaian posisi pasien berdasarkan kondisi klinis. Evaluasi radiograf menunjukkan kualitas citra yang baik sehingga mampu memperlihatkan adanya chip fraktur pada aspek posterior os patella sinistra disertai dislokasi patella ke arah kranial serta pembengkakan jaringan lunak di regio genu sinistra. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan radiografi genu menggunakan proyeksi AP dan lateral telah memberikan informasi diagnostik yang memadai dalam menegakkan diagnosis dislokasi patella di Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Ambon, meskipun penambahan proyeksi skyline dapat dipertimbangkan untuk memberikan evaluasi patellofemoral yang lebih komprehensif. Kata Kunci : dislokasi patella, radiografi genu, proyeksi AP, proyeksi lateral, penatalaksanaan radiografi.
Maijesty Pelupessy | Pembimbing: -
“Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Body Scrub Ampas Kelapa (Cocos nucifera L.) Dan Kunyit (Curcuma longa L.) Sebagai Bahan Alami Untuk Kulit” Maijesty Maria Pelupessy 1 , Cut Bidara Panita Umar 2 , Nur Hasfiana Baktiar 3 1 Mahasiswa Program Studi Farmasi STIKes Maluku Husada 2, 3 Dosen Program Studi Farmasi STIKes Maluku Husada Body scrub merupakan sediaan perawatan kulit yang berfungsi mengangkat sel kulit mati dan membantu menjaga kelembapan kulit. Ampas kelapa (Cocos nucifera L.) mengandung serat dan minyak alami yang berpotensi sebagai bahan eksfoliasi, sedangkan kunyit (Curcuma longa L.) mengandung kurkuminoid yang bersifat antioksidan dan dapat membantu menjaga kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi stabilitas fisik sediaan body scrub berbahan ampas kelapa dan kunyit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain one group pretest-posttest. Formula dibuat dengan variasi konsentrasi ampas kelapa, yaitu FI 5%, FII 10%, dan FIII 15%, sedangkan konsentrasi kunyit dibuat tetap sebesar 5%. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan uji iritasi pada 9 sukarelawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki bentuk, warna, aroma, dan homogenitas yang baik serta nilai pH 6 yang masih sesuai dengan pH kulit. Formula FI dan FII memenuhi persyaratan daya sebar (5–7 cm) dan daya lekat (>4 detik), baik sebelum maupun setelah penyimpanan. Formula FIII memiliki daya sebar dan daya lekat yang kurang memenuhi persyaratan. Hasil uji iritasi menunjukkan bahwa seluruh formula tidak menimbulkan reaksi berupa kemerahan, gatal, maupun bengkak pada sukarelawan. Berdasarkan hasil penelitian, ampas kelapa (Cocos nucifera L.) dan kunyit (Curcuma longa L.) dapat diformulasikan menjadi sediaan body scrub. Formula FI (5%) dan FII (10%) menunjukkan stabilitas fisik yang baik dan aman digunakan karena tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Kata kunci : Ampas Kelapa dan kunyit formulasi, Body Scrub, uji evaluasi fisik.
JOSEP PORUMAU | Pembimbing: -
“Formulasi Dan Uji Evaluasi Sediaan Sabun Cuci Tangan Cair Dari Minyak Kelapa Murni (Virgin coconut oil / VCO)” Josep Porumau 1 , Cut Bidara Panita Umar 2 , Alga Hehalatu 3 1). Mahasiswa STIKes Maluku Husada 2). Dosen STIKes Maluku Husada 3). Dosen STIKes Maluku Husada Sabun cuci tangan cair merupakan salah satu produk yang efektif dalam menjaga kebersihan tangan dan mencegah penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit. Penggunaan bahan alami seperti minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO) berpotensi menjadi alternatif yang lebih aman karena mengandung asam laurat yang memiliki aktivitas antimikroba serta mampu menjaga kelembapan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sabun cuci tangan cair berbahan dasar VCO serta mengevaluasi mutu fisik dan keamanan sediaannya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan tiga formula yang mengandung VCO pada konsentrasi 8% (FI), 9% (FII), dan 10% (FIII). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, tinggi busa, stabilitas penyimpanan, serta uji iritasi kulit pada sukarelawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula berhasil diformulasikan menjadi sabun cuci tangan cair dengan karakteristik fisik yang baik, homogen, memiliki nilai pH dan tinggi busa yang memenuhi persyaratan, serta tetap stabil sebelum dan setelah penyimpanan. Hasil uji iritasi menunjukkan seluruh formula tidak menimbulkan reaksi iritasi berupa kemerahan, gatal, maupun bengkak pada seluruh sukarelawan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO) pada konsentrasi 8%, 9%, dan 10% dapat diformulasikan menjadi sediaan sabun cuci tangan cair yang memiliki mutu fisik baik, stabil, dan aman digunakan sehingga berpotensi dikembangkan sebagai produk pembersih tangan berbahan alami. Kata kunci: Virgin Coconut Oil (VCO), sabun cuci tangan cair, formulasi, evaluasi fisik, uji iritasi.
Jean. A. G. P. P. Pungus | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.