Pusat arsip karya ilmiah, skripsi, dan penelitian sivitas akademika STIKes Maluku Husada. Pengetahuan lokal yang diakui global.
NURMA TUHETERU | Pembimbing: Ns, Abd RiJali Lapodi, S.Kep., M. Kes. & Zulfikar Lating, SKM., M. Kes. s
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di rumah sakit merupakan aspek penting untuk melindungi tenaga kesehatan dari risiko penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di ruang isolasi menjadi salah satu langkah pencegahan utama dalam meminimalkan risiko transmisi infeksi. tujuan Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kepatuhan tenaga kesehatan dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di ruangan isolasi Rumah Sakit Al-Fatah. Kepatuhan penggunaan APD merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah risiko penularan infeksi baik kepada tenaga kesehatan maupun pasien. metode Penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive, terdiri dari 8 orang yang meliputi informan kunci, informan biasa, dan informan tambahan. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga kesehatan pada umumnya telah mematuhi penggunaan APD sesuai dengan standar prosedur operasional (SOP), meliputi pemilihan jenis APD, cara penggunaan, hingga pelepasan setelah digunakan. Namun demikian, masih ditemukan beberapa ketidakkonsistenan dalam penerapan yang disebabkan oleh keterbatasan sarana, rasa tidak nyaman, serta beban kerja yang tinggi. Selain itu, pengawasan dan pelatihan terkait penggunaan APD belum dilakukan secara rutin. Kesimpulannya penelitian ini adalah bahwa tenaga kesehatan memiliki kesadaran yang baik terhadap pentingnya penggunaan APD, namun implementasi di lapangan masih perlu diperkuat melalui peningkatan penyediaan APD, pengawasan yang berkesinambungan, serta pelatihan dan edukasi rutin. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi manajemen Rumah Sakit Al-Fatah dalam upaya meningkatkan keselamatan kerja dan pencegahan infeksi di ruang isolasi.
HIKMA DEWANA NUKUHEHE | Pembimbing: Ns. Hasna Tunny, S.Kep., M.Kep & Ns. Yerry Soumokil, S.Kep., M.Kes
PENGARUH KETERSEDIAAN ALAT KESEHATAN TERHADAP KEPUASAN KERJA PERAWAT DALAM MELAKUKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSU AL-FATAH AMBON ABSTRAK Latar Belakang: Pengaruh ketersediaan alat merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada tingkat kepuasan kerja perawat di Rumah Sakit. Ketersediaan alat kesehatan yang lengkap dan sesuai standar diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja perawat karena memudahkan mereka dalam memberikan asuhan keperawatan yang optimal. Tujuan: Untuk Mengetahui adanya pengaruh antara ketersediaan alat Kesehatan terhadap kepuasan kerja dalam memberikan asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap RSU Al-Fatah Ambon. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat di ruang rawat inap RSU Al-Fatah Ambon sebanyak 36 orang, yang dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi ketersediaan alat kesehatan dan kuesioner kepuasan kerja perawat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden menyatakan alat kesehatan tersedia sebagian yakni 17 orang (47,2%) dengan tingkat kepuasan rendah, sedangkan responden menyatakan alat kesehatan tersedia semua sebanyak 19 orang (52,8%) dengan tingkat kepuasan kerja tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dengan pengaruh ketersediaan alat kesehatan terhadap kepuasan kerja perawat dalam melakukan asuhan keperawatan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan alat kesehatan dengan kepuasan kerja perawat. Sehingga peneliti menyarankan untuk diperlukan peningkatan ketersediaan alat kesehatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas agar perawat dapat bekerja secara optimal, pemeliharaan rutin dan perencanaan pengadaan alat kesehatan juga diperlukan secara berkelanjutan. Kata kunci: Ketersediaan alat kesehatan, kepuasan kerja perawat, perencanaan pengadaan alat kesehatan.
CLAUDIA VANESA SOATOMOLE | Pembimbing: Ira Sandi Tunny,S.Si.,M.Kes & Amelia Niwele, S.Pd., M.Pd
of ossa cruris fracture is one of the lower extremity injuries that often occur due to trauma such as accidents and falls. Ossa cruris radiographic examination plays an important role in establishing a fast and accurate diagnosis. The purpose of this study is to determine the management of ossa cruris radiographic examination in closed fracture cases and safe and optimal ossa cruris radiographic examination procedures in accordance with the condition of closed fracture patients at the Radiology Installation of Tk II Hospital Prof. dr. J. A. Latumeten Ambon. The method used was qualitative descriptive with a case study approach, using a single sample of patients with ossa cruris fracture cases. Data is collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed and processed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study showed that ossa cruris radiographic examination in closed fracture cases was carried out without special preparation, using x-ray aircraft, image receivers, computer Digital Radiography (DR) and printers. The examination follows procedures ranging from verification of the patient's identity, patient position, object position, collimation arrangement, to exposure using Anterior Posterior (AP) and Lateral standard projections. AP and Lateral projections have proven sufficient to establish a diagnosis of closed fractures. The radiograph results showed segmental fractures of the 1/3 middle diaphysis of the tibia and fibula sinistra. The conclusion of the study results showed that the management of ossa cruris radiographic examination in closed fracture cases using AP and Lateral projections has been carried out in accordance with standard operating procedures and is able to provide optimal diagnostic picture results.
DIAN FITA ODE | Pembimbing: Apt.Lukman La Bassy,S.Farm.,M.Sc & Alga Hehalatu, S.H
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN TAPAK DARAH (Catharnthus Roseus) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Eschericia Coli Catharanthus roseus L. atau yang dikenal merupakan tanaman yang banyak digunkanan sebagai tanaman hias juga sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk pengobatan tradisonal. Daun tapak darah mengandung senyawa kimia seperti mengandung alkaloid, saponin, flavonoid dan tannin yang berpotensi sebagai antibakteri. Selain antiabkteri daun tapak darah berkhasiat untuk pereda nyeri otot, antidepresan, obat berbagai penyakit yaitu penghilang bengkak akibat sengatan tawon, mimisan dan sakit tenggorokan), antidotum dan penurun tekanan darah pada manusia. Tujuan Penelitian ini yaitu Untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri ekstrak daun tapak darah (Catharanthus Roseus) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran penelitian ini menggunakan konsentrasi 40%, 60%, 80%. Kontrol (+) Cotrimoxazole, Kontrol (-) Aquades. hasil uji skrining yang di lakukan dapat di ketahui memiliki beberapa senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, saponin. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun tapak darah (Cathranthus roseus) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli di dapatkan rata – rata diameter zona hambat pada konsentrasi 40% sebesar 10,7mm konsentrasi 60% sebesar 10,8 mm konsentrasi 80% 10,8 mm dan untuk control pembanding antibiotik kotrimoxazole diameter zona hambatnya sebesar 20,5 mm sedangkan kontol negative (+) tidak memiliki zona hambat 0 mm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun tapak darah (Catharanthus Roseus) mengandung senyawa yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri. . Kata kunci : Cathranthus roseus, Antibakteri, Escherichia coli.
CHRISNA EIRENE NUSSY | Pembimbing: Maritje S.J. Malisngorar, S.Si.,M.Sc & Iksan Soumena, S.KM.,M.KM
This study was motivated by the importance of apex lung visualization in chest radiographic examinations, particularly for detecting abnormalities such as lesions, masses, or infiltrates that are often difficult to identify when image quality is suboptimal. One approach to improve apex visualization is by varying the angulation in the AP axial radiographic technique. The purpose of this study was to compare the results of angulation variations of 20°, 30°, and 40° in producing apex lung image quality at the Radiology Laboratory of STIKes Maluku Husada The research method applied was an experimental study using the Visual Grading Analysis (VGA) approach, a subjective assessment technique involving observers to evaluate image quality based on predetermined criteria. The collected data were analyzed to determine the median score and the level of interobserver agreement. The findings revealed that a 20° angulation produced better image quality compared to larger angles, with a median score of 3.5 and an agreement level of 75%. In contrast, the 30–40° angulation variation only achieved a median score of 3 with a lower agreement level of 50% These results indicate that increasing the angulation does not necessarily improve image quality, but may in fact reduce the clarity of the apex lung structure due to distortion or overlapping of anatomical shadows. Therefore, a 20° angulation can be recommended as the optimal angle in the AP axial radiographic technique to enhance the visualization of the lung apex. This study is expected to provide useful insights for radiology students and practitioners in selecting appropriate technical parameters to improve the diagnostic quality of chest radiography while minimizing the risk of misinterpretation in the apex region.
HARIS BUTON | Pembimbing: Nr.Zulfikar Pelauw S.Kep.,M.Kep & Nr.Irhamdi Acmhad, S.Kep.,M.Kep
HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA RUANGAN DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RSUD dr. SALIM ALKATIRI NAMROLE KABUPATEN BURU SELATAN Haris Buton1, Zulfikar peluw2, Hasna Tunny3 Email: harisbuton42@gmail.com 1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Maluku Husada 2 3Dosen STIKes Maluku Husada Latar belakang : Kinerja perawat merupakan faktor penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kepala ruangan sebagai pemimpin langsung memiliki peran strategis dalam memotivasi, membimbing, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Gaya kepemimpinan yang tepat sangat menentukan kualitas kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana di RSUD dr. Salim Alkatiri Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 73 perawat rawat inap, dan seluruhnya dijadikan sampel dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 72 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner tentang gaya kepemimpinan kepala ruangan dan kinerja perawat. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil : Mayoritas responden menilai gaya kepemimpinan kepala ruangan baik (62,5%), dan sebagian besar perawat memiliki kinerja baik (72,2%). Uji Chi-Square menunjukkan p-value = 0,030 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan kinerja perawat. Nilai Odds Ratio (OR) = 10,8, artinya perawat yang dipimpin dengan gaya kepemimpinan baik memiliki peluang 10 kali lebih besar untuk berkinerja baik dibandingkan dengan yang dipimpin dengan gaya kepemimpinan kurang baik. Kesimpulan : Terdapat hubungan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan kinerja perawat. Peningkatan kapasitas kepemimpinan perlu diperkuat sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di RSUD dr. Salim Alkatiri Namrole. Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan, Kepala Ruangan, Kinerja Perawat.
SITI HAJAR MABA | Pembimbing: Siti Murdani Haupea,S.ST.,M.Keb & . Anryo Dody De Fretes, Amd.Keb
Nama Institusi : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada Peneliti : Siti Hajar Maba Judul :Asuhan Kebidanan Komprehensif dan Berkesinambungan (Continuity Of Care) Pada Ny Z Umur 24 Tahun di Puskesmas Passo Jumlah BAB : V BAB dan 252 Halaman Laporan Tugas Akhir ini mengulas Asuhan Kebidanan secara Komprehensif dan Berkesinambungan pada Ny. Z, seorang ibu berusia 24 tahun, G1P0A0, dengan kehamilan normal pada usia 37 minggu, yang dilakukan di Puskesmas Passo dari 30 April hingga 20 Mei 2024. Tujuan laporan ini adalah memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan kepada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, dan program keluarga berencana, dengan menggunakan pendekatan manajemen 7 langkah Varney dan SOAP. Asuhan kehamilan dilakukan melalui tiga kunjungan selama usia kehamilan 33- 37 minggu. Pada kunjungan pertama, Ny. Z mengeluhkan sering buang air kecil di malam hari. Namun, pada kunjungan kedua dan ketiga, ibu tidak merasakan keluhan apapun. Pemeriksaan menunjukkan keadaan umum baik, dengan tekanan darah 120/90 mmHg, menandakan bahwa Ny. Z dalam kondisi stabil selama kehamilan. Persalinan berlangsung pada 21 Mei 2024. Ny. Z tiba di rumah sakit dengan keluhan nyeri perut di bagian bawah dan keluarnya lendir bercampur darah. Setelah pemeriksaan dalam, ditemukan pembukaan 6 cm. Ia melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3.075 gram dan panjang 47 cm. Perawatan bayi baru lahir dilakukan sesuai standar. Selama masa nifas, proses menyusui berjalan lancar, dan ibu diberikan pendidikan tentang teknik menyusui yang benar. Asuhan Keluarga Berencana dilakukan dua kali, di mana Ny. Z memutuskan untuk menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL). Melalui asuhan ini, diharapkan Ny. Z dapat menerapkan konseling yang diberikan, menjaga kesehatan ibu dan bayi, serta mencegah komplikasi yang dapat berujung pada kematian.
DAHLIA MAGAIN | Pembimbing: Apt. Jayanti Djarami, S.Farm.,M.Si & Zulfikar Lating S.KM.,M.Kes
FORMULASI DAN UJI STABILITAS SEDIAAN SALEP EKTRAK ETANOL DAUN TEKELAN (Choromolaena odorata L.) ASAL DESA AMARWATU KABUPATEN SBT Dahlia Magain1, Jayanti Djarami2, Zulfikar Lating3 Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Sediaan setengah padat seperti salep, merupakan pilihan untuk efek penyembuhan yang lebih baik karena waktu kontak obat yang lebih panjang dan dapat melindungi luka dari kontaminasi lingkungan luar. Daun tekelan secara tradisional digunakan sebagai obat dalam penyembuhan luka, anti inflamasi dan diuretik. Daun tekelan juga telah diaplikasikan pada manusia untuk membantu pembekuan darah akibat luka bisul atau borok. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder ekstrak etanol daun tekelan, Memformulasikan sediaan salep, Melakukan uji stabilitas, dan Uji iritatasi sedian salep ektrak etanol daun tekelan. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi penyiapan bahan, ekstrak kental (daun tekelan), rancangan formulasi sedian salep, melakukan uji stabilitasa dan uji iritasi sedian salep. Hasil penelitian menunjukan ekstak etanol daun tekelan menghasilkan senyawa metebolit skunder seperti alkaloid, flavanoid, tanin, saponin, dan fenol. Daun tekelan dapat di formulasikan dalam bentuk sedian salep, uji stabilitas salep, hasil uji organoleptik bau,warna,bentuk yang baik hinga 6 siklus penyimpanan di dua suhu yang berbeda, hasil uji homogenitas sedian homogen baik sebelum penyimpanan dan sesudah penyimpanan., hasil uji daya sebar sebelum penyimpanan untuk FI, FII,FIII memiliki daya sebar 6,5cm dan sesudah penyimpanan FI memiliki daya sebar 6,5cm, FII memiliki daya sebar 7cm dan FIII memiliki daya sebar 6,7cm hasil uji daya lekat sebelum penyimpanan FI, FII, FIII memiliki daya lekat 4dtk dan sesuda penyimpan FI, FII, FIII memiliki daya lekat 7dtk, hasil uji pH sebelum penyimpanan untuk FI , FII, FIII memiliki pH dan sesudah penyimpanan untuk FI memiliki pH 6,1 , FII memiliki pH 5,9 dan FIII memiliki pH 5,7. Dan hasil uji iritasi sedian salep sebelum penyimpanan tidak mengiritasi kulit dan sesudah penyimpanan memiliki hasil yang sama tidak mengiritasi kulit. Kata kunci : daun tekelan (Choromolaena odorata L.) , dan sedian salep.
CHESAL JULI AMA BUATAN | Pembimbing: Ira Sandi Tunny, S. Si., M. Kes & Iksan Soumena, S.KM.,M.K.M
The thorax is a cone-shaped cavity that protects vital organs such as the heart and lungs. It is formed by twelve thoracic vertebrae posteriorly, the sternum anteriorly, the clavicles and scapulae superiorly, and the diaphragm inferiorly. Radiographic examination of the thorax in postero-anterior (PA) projection relies heavily on the patient’s ability to perform full inspiration in order to obtain optimal anatomical visualization. Objective: This study aimed to compare the anatomical image quality of thoracic radiographs in PA projection between full inspiration and non-inspiration conditions. Methods: This study used a quantitative approach with a total of 30 thoracic radiographs, consisting of 15 full inspiration and 15 non-inspiration images. The evaluation was performed by one radiographer and one radiologist using a 1–3 scoring scale based on five anatomical parameters: visualization of posterior ribs, diaphragm position, heart border clarity, scapular position, and visualization of lung apices. Results: The results showed that thoracic radiographs taken during full inspiration demonstrated superior anatomical quality, characterized by a greater number of visible ribs (≥10 pairs), a lower and flatter diaphragm position, and clearer cardiac and mediastinal borders. Conversely, radiographs obtained without inspiration exhibited increased lung density, higher diaphragm position, and a pseudo-cardiomegaly effect due to apparent cardiac enlargement. Conclusion: Full inspiration significantly affects the diagnostic quality of thoracic PA radiographs. Therefore, patient cooperation during breathing instructions and radiographer precision during exposure are essential to achieve optimal diagnostic images.
ASRI ARIFIN | Pembimbing: Cut Bidara Panita Umar, S.Farm.,M.Farm & Nurhidayah, S.Farm,. M.Farm
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SALIARA (Lantana camara L) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DENGAN MENGGUNAKAN METODE SUMURAN Daun saliara (Lantana camara L) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki manfaat pengobatan terhadap infeksi bakteri seperti diare. . Saliara ini banyak digunakan dalam pengobatan etnomedis untuk mengobati berbagai penyakit pada saluran pencernaan, saluran pernapasan, obat penenang, anti-tumor, rematik, hipertensi, perdarahan uterus, dan digunakan secara eksternal sebagai antiseptik untuk mengobati kusta, kudis, tetanus, dan pustula (Tescha, 2011). Masyarakat Desa Ureng menggunakan tanaman saliara (Lanatana camara L.) sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan telinga bindeng, dengan cara di remas daunnya sehingga menghasilkan air dan di teteskan di telinga. Mereka tidak mengetahui bahwa tanaman saliara dapat di gunakan juga sebagai obat mencegah diare. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder ekstrak etanol daun saliara (Lantana camara L.) dan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun saliara terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran penelitian ini menggunakan konsentrasi 50%, 75%,100%. Kontrol (+) Cotrimoxazole, Kontrol (-) Aquades. hasil uji skrining yang di lakukan dapat di ketahui memiliki beberapa senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, alkaloid, tannin, saponin. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun saliara (Lantana camara L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli di dapatkan rata – rata diameter zona hambat pada konsentrasi 50% sebesar 10,5mm konsentrasi 75% sebesar 10,7 mm konsentrasi 100% 11,16 mm dan untuk control pembanding antibiotik kotrimoxazole diameter zona hambatnya sebesar 20,53mm sedangkan kontol negative (+) tidak memiliki zona hambat 0 mm. Kata kunci : Lantana camara L, Antibakteri, Escherichia coli.