Pusat arsip karya ilmiah, skripsi, dan penelitian sivitas akademika STIKes Maluku Husada. Pengetahuan lokal yang diakui global.
Firda Jihu | Pembimbing: -
ABSTRAK FORMULASI DAN EVALUASI PASTA GIGI SERBUK DAUN KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI ANTIFLAK Firda Jihu¹, Cut Bidara Panita Umar², Anatje J Pattipeilohy³ Email : firdajihu27@gmail.com ¹Mahasiswa Program Studi Farmasi STIKes Maluku Husada ²,³Dosen Program Studi Farmasi STIKes Maluku Husada Kesehatan gigi dan mulut merupakan aspek penting yang memengaruhi kualitas hidup, namun prevalensi karies gigi di Indonesia masih sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mutu fisik sediaan pasta gigi semi-solid berbahan aktif serbuk daun kelor (Moringa oleifera) pada variasi konsentrasi 10% (FI), 20% (FII), dan 30% (FIII) sebagai inovasi perawatan gigi berbasis bahan alam. Daun kelor dipilih karena ketersediaannya yang melimpah dan kandungan bioaktifnya seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang secara teoritis berpotensi sebagai antibakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium. Evaluasi mutu fisik sediaan dilakukan sebelum dan sesudah penyimpanan selama satu minggu, meliputi uji organoleptik, pH, homogenitas, tinggi busa, dan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga formula stabil secara organoleptik dengan bentuk semi-solid, aroma menthol khas kelor, dan warna hijau yang semakin pekat seiring peningkatan konsentrasi. Seluruh formula memenuhi standar SNI 12-3524-1995 dengan nilai pH aman (5–6), homogenitas yang baik tanpa butiran kasar, serta tinggi busa di bawah batas maksimum 15 mm. Berdasarkan parameter rheology, formula I (10%) menunjukkan karakteristik fisik paling optimal dengan nilai viskositas yang ideal (1456,93 cP menjadi 1645,60 cP setelah penyimpanan), menghasilkan tekstur lembut dan daya ekstrusi yang baik. Sebaliknya, formula III (30%) menghasilkan konsistensi yang terlalu padat dan kaku sehingga viskositasnya tidak dapat terukur. Penelitian ini berhasil menyimpulkan bahwa formula I (10%) merupakan formula sediaan pasta gigi serbuk daun kelor yang paling optimal dan stabil secara fisik. Kesimpulan: formula I dengan konsentrasi serbuk daun kelor 10% merupakan sediaan pasta gigi yang paling optimal dan memiliki stabilitas fisik terbaik. Saran: Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan basis Formula I ini dalam melakukan uji aktivitas antibakteri secara langsung (in vitro) terhadap bakteri penyebab karies atau plak gigi. Kata Kunci: Pasta Gigi, Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera), Formulasi, Evaluasi Fisik.
ELGHA MUTIARA NURDIN | Pembimbing: -
ABSTRAK Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lip Balm Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L) Kombinasi Lidah Buaya (Aloe vera) Elgha M Nurdin1, Jamila F Kabakoran2, Anatje J Pattipeilohy3 Daun jambu biji (Psidium guajava L) diketahui mengandung senyawa polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan, dan lidah buaya (Aloe vera) lignin berfungsi membantu penyerapan zat aktif. Sehingga dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi lip balm. Penelitian ini, bertujuan untuk memformulasikan sediaan lip balm berbahan alam dan mengevaluasi stabilitas fisik sediaan. Metode penelitian yang digunakan yakni maserasi dengan etanol 70% . Lip balm diformulasikan dengan konsentrasi (15%, 20%, dan 25%). Evaluasi fisik meliputi uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, uji daya lekat, uji daya sebar, uji kelembapan, uji iritasi, uji daya oles, uji stabilitas, dan uji efektivitas. Hasil evaluasi menunjukkan seluruh formula lip balm memenuhi parameter mutu sediaan kosmetik. Yakni uji organoleptis memiliki bentuk padat, warna hijau kecoklatan dan aroma khas. Selain itu, pH 6 sesuai pH fisiologis kulit, daya sebar 5,5cm sesuai parameter, daya lekat stabil karena lebih dari >4 detik, daya oles menempel dengan baik pada kulit, tidak menimbulkan iritasi. Sediaan mampu meningkatkan kelembapan yang ditunjukan pada F III (25%) memiliki hasil terbaik sebesar 45,43% dan efektivitas bibir dengan presentase peningkatan sebesar 29,18% sebelum penyimpanan dan 25,49% setelah penyimpanan berada pada kategori lembab (43-46%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa FIII memberikan hasil yang paling optimal selama pengujian 21 hari. Kata kunci: daun jambu biji, lidah buaya, formulasi, evaluasi fisik ABSTRACT Formulation and Evaluation of a Lip Balm Preparation Containing Guava Leaf Extract (Psidium guajava L) Combined with Aloe Vera (Aloe vera) Elgha M Nurdin1, Jamila F Kabakoran2, Anatje J Pattipeilohy3 Guava leaves (Psidium guajava L) are know to contain polyphenolic compounds that act as antioxidants, while (Aloe vera) contains lignin, which aids in the absorption of active substances. Consequently, these can be utilized as active ingredients in lip balm formulations. This study aimed to formulate a natural based lip balm and ensure the physical stability of the product. The research method employed was maceration using 70% ethanol. Lip balm were formulated at concertration of 15%, 20%, and 25%. Physical evaluations included tests for organoleptic property, pH, homogeneity, adhesiveness, spreadbility, moisture content, iritation, spreadbility/application ease, stability, and effectiveness. Evaluation results indicated that all lip balm formulas met cosmetic quality parameters. Organoleptic testing showed a solid form, a greenish brown color, and a characteristic aroma. Additionally, the pH 6 aligned with the skin’s physiological pH spreadability was 5,5 cm within parameters adhesiveness was stable >4 seconds application was smooth with good skin adherence and no irritation occurred. The product effectively increased moisture, with formula III (25%) yielding the best result (45,43%). Effectiveness regarding lip moisture showed an increase of 29,18% before storage and 25,49% after storage, placing it in the moist category (43-465%). Thus, it can be concluded that formula III provided the most optimal results during the 21-day testing period. Keywords: guava leaves, aloe vera, formulation, physical evaluation
LYSHA USTIATY | Pembimbing: Ns. Irhamdi Achmad, S.Kep., M.Kep & Ns. Yerry Soumokil, S.Kep., M.Kes
Pendahuluan: Supervisi keperawatan merupakan salah satu fungsi manajerial yang berperan penting dalam memastikan pelaksanaan standar pelayanan keperawatan berjalan sesuai prosedur yang ditetapkan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan supervisi dengan pelaksanaan standar pelayanan keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumkit Tk.II Prof. dr. J.A. Latumeten Ambon. Metode : penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling jenuh Hasil : Berdasarkan Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai Fisher's Exact Test p = 0,026 (p < 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara supervisi dengan pelaksanaan standar pelayanan keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumkit Tk.II Prof. dr. J.A. Latumeten Ambon . Kesimpulan : Adanya hubungan supervisi dengan pelaksanaan standar pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Rumkit TK.II Prof. dr. J.A Latumeten Ambon
putri antasari rumodar | Pembimbing: -
Edukasi Terstruktur, Perilaku Kepatuhan Pencegahan Penularan, Tuberkulosis Paru
Fitri anna ilham | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Jesika E. Walaia | Pembimbing: -
ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada masyarakat pesisir yang erat kaitannya dengan karakteristik wilayah dan gaya hidup, seperti pola makan tinggi natrium dari hasil laut serta tingginya kebiasaan merokok dan konsumsi kopi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor (konsumsi garam, kebiasaan merokok, dan konsumsi kopi) yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir di Desa Tomalehu Timur. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Desa Tomalehu Timur. Populasi berjumlah 132 orang, dengan sampel sebanyak 99 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner serta pengukuran tekanan darah langsung menggunakan tensimeter manual. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji ChiSquare. Hasil : Analisis univariat menunjukan sebanyak 46,5% mengalami hipertensi dan 53,5% tidak mengalami hipertensi hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok (p = 0,021) dan konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi garam dengan kejadian hipertensi (p = 0,972). Tenaga kesehatan disarankan untuk mengoptimalkan program edukasi dan skrining kesehatan berkala terkait pembatasan rokok dan kopi guna menekan angka hipertensi di wilayah pesisir. Kata Kunci: Hipertensi, Masyarakat Pesisir, Garam, Rokok, Kopi.
Ririn Sutari Tidore | Pembimbing: -
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
Ilfandi umagapi | Pembimbing: -
Latar Belakang Radiografi manus merupakan pemeriksaan radiologi yang memerlukan ketepatan positioning, khususnya pada proyeksi oblique yang membutuhkan kemiringan sudut ±45° secara stabil selama eksposi. Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Tk II dr. J.A. Latumeten Ambon, pemeriksaan manus proyeksi oblique masih dilakukan secara manual tanpa alat bantu fiksasi khusus, sehingga pada pasien dengan nyeri atau keterbatasan gerak sering terjadi pergerakan objek yang menurunkan kualitas radiograf dan meningkatkan risiko pengulangan pemeriksaan. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rancang bangun alat fiksasi pada pemeriksaan radiografi manus dengan proyeksi oblique di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Tk II dr. J.A. Latumeten Ambon. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D), yang meliputi tahap identifikasi kebutuhan alat, perancangan desain, pemilihan bahan, pembuatan alat, hingga pengujian fungsi alat. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan pengujian alat pada pemeriksaan radiografi manus proyeksi oblique, kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel, persentase, dan uraian. Hasil Penelitian Alat fiksasi hasil rancangan dibuat dari bahan styrofoam yang bersifat radiolusen, disusun bertingkat menyerupai anak tangga dengan sudut kemiringan 40–45° dan dilengkapi strap pengikat. Hasil uji coba menunjukkan seluruh kriteria positioning (7 dari 7 kriteria) dan seluruh kriteria teknis radiograf (7 dari 7 kriteria) terpenuhi 100% oleh keempat penilai, tanpa ditemukan artefak akibat penggunaan alat. Dibandingkan dengan teknik manual, penggunaan alat fiksasi terbukti meningkatkan kestabilan posisi tangan pasien, ketepatan sudut oblique, serta kenyamanan pasien selama pemeriksaan berlangsung. Kata Kunci:  Rancang Bangun, Alat Fiksasi, Radiografi Manus, Proyeksi Oblique, Instalasi Radiologi. Background Hand (manus) radiography is an examination that requires precise positioning, particularly for the oblique projection, which requires the hand to be held stable at an angle of approximately 45° during exposure. At the Radiology Installation of Tk II dr. J.A. Latumeten Hospital Ambon, the oblique projection of manus examinations is still performed manually without a dedicated fixation device, so that patients experiencing pain or limited mobility often move during exposure, reducing radiograph quality and increasing the risk of repeat examinations. Objective This study aims to determine the design and construction of a fixation device for hand (manus) radiography examination with oblique projection at the Radiology Installation of Tk II dr. J.A. Latumeten Hospital Ambon. Method This study used a Research and Development (R&D) approach, consisting of needs identification, design planning, material selection, device fabrication, and testing. Data were collected through observation, documentation, and device testing during manus oblique projection examinations, then analyzed descriptively using tables, percentages, and narrative description. Results The resulting fixation device was made of radiolucent styrofoam arranged in a stepped, tiered structure with an adjustable incline of 40–45° and fitted with a securing strap. Testing showed that all positioning criteria (7 of 7) and all technical radiograph criteria (7 of 7) were met by 100% according to four evaluators, with no artifacts caused by the device. Compared with the manual technique, the fixation device improved the stability of the patient's hand position, the accuracy of the oblique angle, and patient comfort during the examination. Keywords: Design and Construction, Fixation Device, Manus Radiography, Oblique Projection, Radiology Installation.
Ayumi Lahasi | Pembimbing: Dr.Apt.Lukman La Basy,S.Farm.,M.Sc
Abstrak tidak tersedia untuk dokumen ini.
JENIVER CHERIM NICOL LILIEFNA | Pembimbing: -
Daun keji beling (Strobilanthes crispus Blume) dikenal sebagai tanaman obat tradisional yang mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa ekstrak etanol daun keji beling serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan menggunakan metode maserasi pada 3 kg sampel daun yang diperoleh dari Desa Galala, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Maserasi dilakukan menggunakan pelarut etanol 70% sehingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kemudian diuji fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, dilanjutkan dengan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Gentamisin digunakan sebagai kontrol positif. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun keji beling positif mengandung flavonoid, tanin, dan saponin. Uji antibakteri memperlihatkan adanya aktivitas hambat terhadap S. aureus dengan rata-rata zona hambat pada konsentrasi 5% sebesar 3,16 mm, 10% sebesar 4,5 mm, dan 15% sebesar 5,16 mm, sedangkan kontrol positif menghasilkan zona hambat 6,83 mm. Berdasarkan kategori interpretasi daya hambat, konsentrasi 5% dan 10% tergolong lemah, sedangkan konsentrasi 15% serta kontrol positif tergolong sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun keji beling memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap Staphylococcus aureus, meskipun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan gentamisin.