Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara berkembang
seperti di Indonesia. Menurut Afifurahman et al (2014), Salah satu penyebab infeksi di Indonesia
yaitu Methicilin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dengan prevalensi cukup tinggi
(23,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui efektivitas antibakteri
minyak seith terhadap Staphylococus aureus, untuk mengetahui efektivitas antibakteri minyak
kayu putih terhadap Staphylococus aureus dan untuk mengetahui perbandingan efektivitas
antibakteri minyak seith dengan minyak kayu putih bakteri terhadap Staphylococus aureus.
Metode yang digunakan yaitu difusi sumuran, Metode sumuran yaitu metode dengan cara
membuat sumuran pada media agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri uji. Lalu lubang
diisi dengan larutan uji. Setelah diinkubasi,diamati pertumbuhan bakterinya dengan melihat ada
tidaknya daerah hambatan di sekeliling lubang. Konsentrasi minyak seith dan minyak kayu putih
yang digunakan yaitu 50%, 75% dan 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa minyak seith
dengan konsentrasi 50%, 75% dan 100% menghasilkan diameter zona hambat sebesar 1 mm, 1,1
mm dan 1,2 mm. sedangkan minyak kayu putih pada konsentrasi 75% dan 100% mampu
menghambat aktivitas bakteri dengan diameter zona hambat 1,2 mm dan 11,8 mm. Dapat
disimpulkan bahwa minyak kayu putih (Melaleuca cajaput) lebih efektif dalam menghambat
pertumbuhan bakteri staphylococus aureus dibandingkan dengan minyak seith.
Kata Kunci : Minyak seith, Minyak kayu putih (Melaleuca cajaput), Staphylococcus aureus
Kata Kunci (Keywords):
Minyak seithMinyak kayu putih (Melaleuca cajaput)Staphylococcus aureus