Formulasi dan Evaluasi Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Harendong Bulu (Clidemia hirta)
Rahman Julia1, Hasni Pulhehe2, Wiwi Rumaolat3
Clidemia hirta atau dikenal dengan sebutan harendong bulu merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional karena mengandung banyak senyawa kimia sekunder seperti tanin, flavanoid, saponin dan steroid yang berpotensi sebagai antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri yang bertujuan mencegah terjadinya infeksi. Maka dalam hal ini menjadi dasar potensi daun harendong bulu untuk dapat dimanfaatkan menjadi formulasi sediaan krim. Bentuk sediaan krim dipilih karena mempunyai keuntungan yaitu mudah dicuci, cepat meresap, tidak lengket dan mudah diaplikasikan. Sediaan krim tersebut dimanfaatkan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah daun harendong bulu dapat dibuat menjadi sediaan krim serta menguji sifat fisik dan uji irtasi dengan variasi kosentrasi 1%, 3% dan 5%. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode meserasi pada pembuatan ekstrak dan metode peleburan dan pencampuran pada pembuatan krim. Hasil penelitian menunjukkan sediaan krim dari ekstrak etanol daun harendong bulu (Clidemia hirta) dapat diformulasikan menjadi sediaan krim serta ketiga formulasi dengan konsentrasi 1%, 3% dan 5% dapat memenuhi persyaratan uji sifat fisik krim dan tidak megiritasi kulit. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun harendong bulu (Clidemia hirta) pada kosentrasi 1%, 3% dan 5% dapat diformulasikan menjadi krim serta memenuhi persyaratan sifat fisik krim dan uji Iritasi.
Kata Kunci: Harendong bulu, krim, formulasi, antibakteri